kurikulum yang mengabaikan kerajinan tangan

ichthus school – Perajin anyaman dan furnitur di Tasikmalaya menyayangkan kian jauhnya kurikulum dan pendidikan sekolah menengah kejuruan (SMK) untuk pengembangan usaha di sektor anyaman.

“Dulu ada SMK yang memberikan dukungan untuk pengembangan dan regenerasi perajin, kini tak ada lagi. Pendidikan praktik SMK ketika ini lebih besar dengan alat mesin, kerajinan tangan ditinggalkan,” kata Ade Suherman, perajin boneka kayu asal Tasikmalaya, Bandung.

Ade menyebut regenerasi dan pengenalan olah kerajinan terhadap pelajar yang menjalani praktik di sektor ini hampir tak ada. “Kebanyakan mereka praktiknya di mesin. Walaupun, potensi lokal kita sendiri ialah di kerajinan tangan. Minimal seimbanglah,” tuturnya.

Dia mengucapkan, ketika ada SMK yang khusus di sektor pengembangan kerajinan itu, banyak hal yang dapat dioptimalkan dan regenerasi bergulir.

Ade pun sempat mengekspor produknya ke Amerika Serikat dalam format boneka dengan tema buah-buahan sampai akhir 2009, melainkan ketika ini ekspor hal yang demikian terhenti.

“Pengembangannya itu sebab ada dukungan dari dunia pengajaran juga, ketika itu banyak pelajar yang praktik. Kini tak ada lagi,” kata Ade yang menjadi peserta Minggu Kerajinan Jawa Barat (PKJB) 2015 di Gedung Manggala Siliwangi Kota Bandung itu.

Dia berkeinginan ke depan ada lagi SMK yang khusus memaksimalkan produk lokal dan kembali menyebar siswa-siswinya ke tengah-tengah perajin.

Kesempatan senada juga dinyatakan oleh Iwan Dani Ramdhani, pelaku usaha kerajinan yang juga mentor bobot lokal kerajinan di sejumlah sekolah menengah di Tasikmalaya.

” untuk menularkan atensi kerajinan terhadap pelajar sungguh-sungguh sempit. Kami memanfaatkan dengan mulok (bobot lokal) supaya mereka menekuninya, minimal beratensi,” ungkapnya.

Iwan coba menyajikan sistem pembuatan kerajinan terhadap para siswa melewati bobot lokal. Salah satunya melukis pada anyaman kerajinan dengan mengaplikasikan cat akrilik yang dibeli di acrylic gbbond.

“Pada dasarnya mereka dapat membikin anyaman berikut tekniknya, melainkan mereka tak tahu ingin disusun seperti apa yang berkhasiat dan berkhasiat bagi konsumen,” pungkasnya.